Kamus Ramadan: Melepas Ramadan dengan Beri'tikaf. Apa itu i'tikaf?

Bisnis.com, JAKARTA - Di pengujung bulan suci Ramadan atau fase 1/3 terakhir Ramadan, salah satu tema yang kerapkali diangkat oleh para penceramah sholat taraweh (qiyamul lail) maupun sholat Subuh adalah i'tikaf.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Juli 2014  |  13:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Di pengujung bulan suci Ramadan atau fase 1/3 terakhir Ramadan, salah satu tema yang kerapkali diangkat oleh para penceramah sholat taraweh (qiyamul lail) maupun sholat Subuh adalah i'tikaf.

Di sejumlah masjid-masjid di Ibu Kota diantaranya Masjid Istiqlal, Masjid At-Tin TMII, umat Islam dengan penuh khusuk mengikuti ibadah i'tikaf.

Apa itu i'tikaf? Dalam laman NU disebutkan i'tikaf merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan selama Ramadan, sebagaimana dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Hadist Aisyah ra menerangkan:

Dari Aisyah r.a, istri Nabi SAW menuturkan: “Sesungguhnya Nabi SAW, melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan t’tikaf sepeninggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006)

Dalam arti harafiahnya, i'tikaf berarti menetapi suatu kebaikan atau kejelekan, dan secara ilmu fiqh berdiam diri dalam masjid dengan ketentuan-ketentuan tertentu, diantara ketentuan tersebut adalah pertama orang yang melakukan i’tikaf adalah orang Islam, maka i’tikaf yang dilakukan oleh orang selain beragam Islam itu hukumnya tidak sah (batal).

Kedua, berakal sehat, apabila mu’takif itu gila atau terserang penyakit epilepsi maka batal (tidak sah) i’tikafnya. Ketiga, orang yang beri’tikaf (mu’takif) harus dalam keadaan suci dari haid dan nifas bagi seorang perempuan, dan suci dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan diwajibkannya mandi junnub.

Adapun rukun i’tikaf yang harus dipenuhi adalah pertama, niat untuk untuk berdiam diri di dalam masjid, dan bagi mereka yang bernadzar untuk i’tikaf, maka diwajibkan baginya untuk mengucapkan kata fardu di dalam niat i’tikafnya. Dan kedua berdiam diri dalam masjid dalam rentang waktu lebih dari lamanya thumaninah dalam sholat.

Selain syarat dan rukun yang harus dijaga, hendaknya bagi mereka yang beri’tikaf memperhatikan beberapa pantangan yang dapat membatalkan i’tikaf. Diantaranya bersetubuh dengan istri

"…Dan janganlah kalian campuri mereka (isterimu) itu, sedang kalian sedang dalam keadaan i’tikaf di ,asjid, itulah ketentuan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah, 2:187)

Kedua, keluar dari masjid tanpa udzur atau halangan yang dibolehkan syariat. Tetapi bila keluar dari masjid karena ada udzur, misalnya buang hajat atau air kecil dan yang serupa dengan itu, tidak membatalkan i’tikaf.

Diperbolehkan keluar dari masjid karena mengantarkan keluarga ke rumah, atau untuk mengambil makanan di luar masjid, bila tidak ada yang mengantarkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah r.a:

Dari Aisyah r.a, menuturkan, Nabi s.a.w, apabila beri’tikaf, Beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku sisir rambutnya, dan Beliau tidak masuk rumah kecuali untuk keperluan hajat manusia (buang air besar atau buang air kecil)”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1889 dan Muslim: 445).

Mengenai waktu i’tikaf bisa dilakukan di setiap waktu, tetapi waktu yang sangat dianjurkan untuk beri’tikaf adalah pada malam sepuluh terakir dari bulan Ramadan.

Dengan alasan sebagai usaha untuk mencari dan menemukan malam lailatul qadar yang memiliki keistimewaan 1:1.000 keistimewaan bulan selain bulan Ramadan, oleh karena itu i’tikaf pada saat-saat itu sangat dianjurkan.




Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nu, Ramadan, i'tikaf

Sumber : www.nu.or.id

Editor : Lahyanto Nadie
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top