Kamus Ramadan: I'tikaf, Bagaimana Tata Caranya?

Memasuki pertengahan hingga menjelang akhir Ramadan ramai diamalkan ibadah I'tikaf. Terlebih sepanjang 10 hari menjelang berakhirnya Ramadan.
Lahyanto Nadie
Lahyanto Nadie - Bisnis.com 25 Juni 2015  |  10:20 WIB
Mesjid Al-Markaz Al-Islami - simbi.kemenag.go.id

Bisnis.com, JAKARTA--Memasuki pertengahan hingga menjelang akhir Ramadan ramai diamalkan ibadah I'tikaf. Terlebih sepanjang 10 hari menjelang berakhirnya Ramadan.

I'tikaf maksudnya tinggal atau berdiam diri di dalam masjid dengan niat ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tentu saja selama I'tikaf diisi dengan berbagai amalan seperti salat, mengaji, taddarus ataupun taddabur Alquran, mengkaji ayat-ayat Allah, berdoa, dan mengerjakan berbagai amal saleh lainnya.

Pahala I'tikaf

Pahala I'tikaf sangat banyak begitu juga berbagai keutamaannya sehingga Rasulullah SAW terus menerus menjaganya.

Berdasarkan penjelasan HR Tabrani, Baihaqi & Hakim disebutkan bahwa pahala I'tikaf satu hari maka Allah SWT akan menjauhkan antara orang itu dan neraka Jahanam sejauh tiga parit, dan begitu jauhnya jarak antara satu parit dan parit berikutnya sehingga melebihi jauhnya antara langit dan bumi.

Adapun Allamah Sya'rani rah.a meriwayatkan hadist Rasulullah SAW dalam ktabnya Kasyful Ghummah bahwa barangsiapa beri'tikaf pada 10 hari bulan Ramadan, baginya dua pahala haji dan dua pahala umrah. 

Tentu saja seberapa besar pahala I'tikaf hanya Allah yang mengetahui dan membalasnya dengan jumlah yang Dia kehendaki. 

Keutamaan I'tikaf

Berdasarkan Hadist Bukhari-Muslim, Nabi SAW biasa beri'tikaf utamanya dalam 10 hari terakhir Ramadan sehingga para ulama berpendapat sunnah mu'akkadah. Salah satu tujuannya mencari malam Lailatul Qadar.

Jadi pada hakikatnya, untuk mencari malam Lalilatul Qodar yang nilai ibadahnya lebih dari 1.000 bulan tersebut hanyalah melalui I'tikaf.

Tempat I'tikaf

Bagi kaum laki-laki, tempat yang paling utama untuk beri'tikaf adalah Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Baitul Maqdis di Palestina dan masjid-masjid jami' di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Menurut Imam Abu Hanifah, masjid yang digunakan seorang untuk beri'tikaf disyaratkan masjid yang digunakan untuk salat berjamaah lima waktu.

Adapun Imam Abu Yusuf & Imam Muhammad (shahibain) masjid yang sesuaidengan syariat adalah cukup untuk beri'tikaf walaupun di sana tidak terdapat salat berjamaah lima waktu.

Dari Aisyah ra, berkata 'disunnahkan orang yang beri'tikaf untuk tidak menjenguk orang sakit, tidak melawat jenazah, tidak menyentuh perempuan dan tidak keluar masjid kecuali untuk hajat yang tidak dapat ditinggalkan. Tidak boleh I'tikaf kecuali dengan berpuasa dan tidak boleh I'tikaf kecuali di masjid jami' (HR Abu Dawud).

Wanita Beri'tikaf

Bagi wanita hendaknya beritikaf di ruangan mushala atau ruangan khusus untuk salat di dalam rumahnya.

Apabila tidak terdapat ruangan khusus salat, maka dapat menyediakan suatu ruangan khusus di dalam rumahnya untuk beri'tikaf.

Jadi bagi kaum wanita lebih mudah karena bisa beri'tikaf di satu ruangan khusus di rumahnya sambil mengerjakan berbagai pekerjaan rumah dan mendapat pahala I'tikaf. (ra)

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Puasa, Ramadan, itikaf, i'tikaf, lalilatul qadar

Editor : Lahyanto Nadie
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top