Puasa, Disiplin, dan Kompetisi

Puasa sudah menjadi kebiasaan dan diketahui umum dan dapat dilakukan siapa pun, termasuk para atlet. Ada atlet yang mengganti puasanya pada bulan lain. Ada pula yang tetap menjalankan ibadah itu kendati sedang tanding, tergantung dari cabang apa yang digelutinya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 Juni 2015  |  02:20 WIB
Muhammad Sean Gelael. - twitter

Bisnis.com, JAKARTA - Muhammad Sean Gelael akan membalap di Red Bull Ring, Austria, 11--12 Juli 2015, merupakan putaran kelima Kejuaraan Formula Renault 3.5, bertepatan dengan masih berlangsungnya pelaksanaan ibadah puasa Ramadan.

"Saya akan tetap puasa. Akan tetapi, bila bertepatan pada hari perlombaan, harus membatalkan puasa, saya akan menggantinya pada hari lain," kata Sean dalam acara buka puasa bersama di Jakarta.

"Saya kira puasa atau tidak akan sama saja bila asupan nutrisi yang kita butuhkan diperoleh tubuh kita pada saat sahur dan berbuka," kata Sean, yang tahun lalu juga berlomba saat puasa di Moscow Raceway.

Pebalap muda berusia 18 tahun itu terasah melaksanakan salah satu rukun Islam itu karena ibundanya, Rini Gelael, mendidik agar dia selalu menjalankan ibadah agama dan tetap berdoa meminta keselamatan kepada Allah SWT setiap akan berlomba.

Puasa sudah menjadi kebiasaan dan diketahui umum dan dapat dilakukan siapa pun, termasuk para atlet. Ada atlet yang mengganti puasanya pada bulan lain. Ada pula yang tetap menjalankan ibadah itu kendati sedang tanding, tergantung dari cabang apa yang digelutinya.

Ini pernah dimasalahkan pada Olimpiade London yang bertepatan dengan Ramadan. Para ahli medis mengatakan bahwa secara teoretis pengurangan asupan makanan selama Ramadan mengurangi kinerja hati dan cadangan glikogen dalam otot. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan kinerja, terutama dalam olahraga yang membutuhkan kekuatan otot, termasuk balapan.

Mengantisipasi potensi masalah ini, kelompok kerja International Olympic Committee's (IOC) mengadakan pertemuan pada tahun 2009 untuk mengkajinya. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa puasa Ramadan bisa menjadi masalah bagi beberapa atlet dalam beberapa cabang olahraga. Namun, dampak keseluruhan masih belum jelas.

Ronald Maughan, ilmuwan olahraga dari Loughborough University Inggris yang memimpin kelompok kerja IOC, setuju beberapa perubahan fisik mungkin akan terjadi. Akan tetapi, dia juga mencatat selama bulan suci, manfaat disiplin mental dan spiritual mempunyai efek yang tidak boleh diremehkan.

"Beberapa atlet Muslim mengatakan mereka tampil lebih baik selama Ramadan, bahkan jika mereka berpuasa karena mereka lebih terfokus. Oleh karena itu, waktu yang sangat spiritual bagi mereka," katanya.

Ia menegaskan, "Iman mereka memberi mereka kekuatan dan Ramadan merupakan bagian integral iman itu." Maughan memimpin tim ilmuwan meneliti lebih dari 400 artikel penelitian tentang Ramadan dan efeknya bagi para atlet. Mereka menemukan bahwa tanggapan yang sebenarnya cukup beragam, bergantung pada budaya dan tingkat individu dan jenis keterlibatan sang atlet.

"Sering kali ada sedikit penurunan kinerja, khususnya dalam kegiatan yang membutuhkan kontraksi otot yang kuat dan atau berulang," demikian penjelasan dalam British Journal of Sports Medicine (BJSM) bulan ini.

Dalam konteks ini, misalnya saja pada kinerja gerakan olahraga singkat yang umum, seperti lompat jongkok, gerakan pemanasan intens yang statis maupun dinamis, kontraksi pada saat angkat beban, dll., atau pada olahraga berdurasi sangat pendek, misalnya lari 5 meter, 10 meter, dan 20 meter, akan tetap merekomendasikan latihan maksimal yang dipertahankan selama Ramadan.

Akan tetapi, pada studi lainnya, disebutkan bahwa puasa Ramadan berkontribusi pada penurunan kapasitas aerobik, ketahanan, dan kemampuan untuk melakukan latihan pada 75 persen dari maksimal VO2 max. Pada atlet sepak bola, ada juga studi yang dilaporkan adanya penurunan dalam komponen umum kebugaran (kecepatan, kelincahan, dan daya tahan) dan uji keterampilan individual (seperti dribel) pada saat berpuasa.

Pada penelitian lain, 2008, menunjukkan tidak ada dampak jelas dalam kecepatan, kekuatan, kelincahan, daya tahan, dan keterampilan individual pada saat puasa Ramadan.

Bahkan, pada studi lainnya ditemukan bahwa puasa Ramadan tidak memengaruhi kinerja fisik atlet, bahkan kinerja sebenarnya meningkat. Ada lagi penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki dampak puasa Ramadan pada kekuatan anaerobik, kapasitas anaerobik, dan tingkat penghapusan laktat (indikator kelelahan, biasanya berupa rasa pegal) pada pelari, pelempar (atletik), dan pegulat.

Tidak Berdampak Buruk Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan tidak menghasilkan dampak buruk pada komposisi tubuh, kekuatan anaerobik, kapasitas anaerobik, dan metabolisme asam laktat selama dan setelah latihan intensitas tinggi jika tidak ada perubahan total asupan kalori harian (makanan dancairan), dan tidak ada perubahan total jam tidur, atau jika semuanya dipertahankan seperti sebelum Ramadan.

Pada Olimpiade 2012 di London, Uni Emirat Arab memperkenankan para pemain tim sepak bola tidak berpuasa saat harus menjalani kompetisi.

Mereka diberi keringanan untuk membayar utang puasa pada hari lain. "Tidak akan ada tekanan terhadap pemain untuk berpuasa sejak Mufti Besar Dubai Sheikh Ahmed Al Haddad mengatakan bahwa pemain yang tidak berpuasa dapat menggantinya setelah pertandingan," kata pelatih sepak bola Olimpiade UEA Mahdi Aliketika itu.

Putaran kedua Piala Dunia 2014 di Brasil, juga dilaksanakan pada bulan Ramadan dan sebagian pemain Prancis, Jerman, Swiss, Belgia, Aljazair, dan Nigeria beragama Islam sehingga mereka menghadapi pilihan sulit, menjalankan ibadah puasa atau bermain sepak bola.

Akan tetapi, badan sepak bola dunia FIFA dengan tegas mengatakan bahwa mereka sudah melakukan kajian mendalam tentang atlet sepak bola yang bertanding selama bulan suci, dan dipastikan mereka tidak akan mengalami gangguan atau bahaya apa pun dalam kondisi fisik mereka.

"Kami sudah melakukan kajian yang lengkap dan mendalam mengenai para pemain selama bulan puasa. Kesimpulannya adalah jika puasa pada bulan Ramadan diikuti dengan benar, tidak bakal ada penurunan pada kinerja fisik para pemain. Kami sudah melakukan penelitian mendalam dan tidak ada sesuatu pun yang mengkhawatirkan kami," ujar Kepala Bidang Medis FIFA Jiri Dvorak ketika itu.

Para pemain yang sedang menjalani ibadah puasa Ramadan, kata dia, selalu memiliki ketentuan untuk meminta pengecualian dan menjalani Ramadan pada waktu yang lebih tepat. "Inilah yang saya pelajari dari para pemimpin agama Islam di Aljazair," ujarnya.

Michel D'Hooghe, Ketua Komite Medis FIFA, mengatakan kepada wartawan, "Puasa Ramadan seharusnya tidak menjadi masalah dan kami mengalami hal yang sama pada Olimpiade London dua tahun lalu." Piala Dunia 1986 Meksiko juga diadakan pada Ramadhan.

Emma Gardner, ahli gizi di English Institute of Sport, mengatakan bahwa para atlet berpuasa harus mempertahankan tingkat kebutuhan hidrasi setiap hari, dan kedua mencoba untuk mempertahankan tingkat atau level kebutuhan energi mereka. "Massa otot juga merupakan masalah. Penelitian menunjukkan bahwa orang dapat kehilangan massa otot melalui periode di awal Ramadan," ungkap Emma.

Pernyataan Emma agak berbeda dengan komentar Jiri Dvorak yang mengatakan bahwa pemain tidak cepat mengalami penurunan kondisi fisik mereka meski dalam kondisi berpuasa. "Kami telah membuat studi ekstensif pemain selama Ramadan. Kesimpulannya, jika Ramadan diikuti dengan tepat, tidak akan ada penurunan kinerja fisik pemain," kata Dvorak kepada wartawan.

Dokter Ryanita Sandjaya, dalam artikel kesehatan di laman tanyadok.com menjelaskan bahwa untuk tetap mempertahankan massa otot, para atlet harus berbuka puasa dengan mengonsumsi karbohidrat dan protein dalam jumlah tinggi.

"Hal itu bertujuan memberi nutrisi pada jaringan otot dan sel-sel tubuh lainnya serta menghindari penurunan massa otot akibat lapar yang berlebihan. Menu makan sahur harus memenuhi kecukupan gizi, yaitu komposisi karbohidrat, protein, dan lemak harus seimbang, 15 persen protein, 20--25 persen lemak, dan sisanya karbohidrat," tutur Ryanita.

Nah, bagi atlet yang harus meninggalkan puasa Ramadan, ada keringanan untuk menggantikannya (kada) pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Dalam surah Al-Baqarah: 184, tertulis, "Maka, barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain."

Pembalap muda Sean Gelael yang sedang dalam menjalankan tugasnya membawa nama bangsa dan negara jika meninggalkan puasanya, dia dapat menggantikannya pada hari dan bulan lain. Hal ini termasuk sedang dalam "perjalanan". []

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kompetisi, balap mobil

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top