Ramadan Jadi Bulan Pendidikan Nafsu

Manusia dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu panglima besar yang ada dalam diri manusia yaitu hati, panglima operasional ialah nafsu dan prajuritnya adalah anggota badan seperti mata, mulut, kaki, telinga, dan tangan.
Nurudin Abdullah
Nurudin Abdullah - Bisnis.com 16 Juni 2016  |  18:39 WIB
Ilustrasi: Matahari terbenam (sunset) di pelataran Masjid Terapung Amirul Mukminin, Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (22/6/2015). - Antara/Yusran Uccang

Bisnis.com, TANGSEL-Manusia dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu panglima besar yang ada dalam diri manusia yaitu hati, panglima operasional ialah nafsu dan prajuritnya adalah anggota badan seperti mata, mulut, kaki, telinga, dan tangan.

Ahmad Thib Raya, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan 3 bagian tersebut merupakan pengembangan dari intisari penyataan Imam Al Ghazali bahwa di dalam diri manusia teradapat panglima besar dan prajurit.

“Al Ghozali mengatakan panglima besar adalah hati (qalb), sementara prajuritnya seluruh anggota badan. Anggota badan itulah yang bertindak melakukan segala hal atas perintah panglima besar atau qalb,” katanya saat ceramah Ramadan di Mesjid Al-Jamiah UIN Jakarta, Kamis (16/6/2016).

Menurutnya, panglima besar atau hati itulah yang memerintahkan kepada nafsu, dan nafsu boleh jadi menyimpang dari perintah panglima besar (hati), sehingga terjadilah penyimpangan yang dilakukan oleh manusia.

Hati sebagai panglima besar memiliki dua sifat yang berlawanan sebagaimana disebutkan oleh Al-Quran yaitu pertama fujur atau tindakan negatif, dan kedua adalah taqwa yaitu tindakan positif.

Ahmad mengungkapkan nafsu cenderung melaksanakan perintah paling mudah yang bersifat negatif. Karena itu puasa merupakan ibadah khusus yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada manusia yang dilaksanakan pada bulan Ramadan.

“Maka bulan Ramadan menjadi bulan pendidikan nafsu atau tarbiyatun nafsi atau tahdzibun nafsi,” ujarnya dalam situs resmi UIN Jakarta.

Dia mengatakan hati manusia berpotensi menjadi liar, jika tidak dikendalikan akan menghancurkan manusia itu sendiri.

Sedangkan potensi yang banyak merusak manusia adalah nafsu yang ada dan bercokol di dalam dirinya. Jika nafsu tidak dikendalikan, maka akan terjadi tindakan-tindakan yang menyimpang.

Akan tetapi, imbuhnya, jika nafsu diberikan pendidikan dan pelatihan, maka nafsu itulah yang mendorong manusia untuk berbuat kebaikan dan kebajikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tangerang selatan, Ramadan, UIN Jakarta

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top