Enam Kali Lebaran di Taiwan

Keriuhan yang justru tidak dirasakan oleh warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini tengah berada di luar negeri untuk berbagai keperluan, wisata, tugas belajar, atau tugas negara.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 22 Juni 2017  |  19:13 WIB

Kabar24.com, JAKARTA - Gelombang arus mudik Lebaran 2017 di Indonesia sudah dimulai. Kamis (22/6/2017) malam dan Jumat (23/6/2017) diprediksi menjadi puncak muhibah massal warga masyarakat yang merantau untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Selalu saja ada keriuhan dalam setiap festival mudik tahunan di Indonesia. Keriuhan yang justru tidak dirasakan oleh warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini tengah berada di luar negeri untuk berbagai keperluan, wisata, tugas belajar, atau tugas negara.

Tak sedikit WNI yang harus merelakan berlebaran di negeri orang. Salah satunya Madonna Rica Anggelia, mahasiswa program doktoral di Department of Biomedical Science, Chang-Gung University, Taiwan.

Rica, begitu juga biasa dirinya disapa saat ini juga bekerja sebagai Research Associate, Department of Plastic and Reconstructive Surgery, Chang-Gung Memorial Hospital.

Sudah enam kali momen Lebaran dihabiskan Rica di Taiwan. “Sampai sekarang kurang lebih hampir 7 tahun [tinggal di Taiwan]. Enam kali menjalankan Ramadan di sini yaitu di Chungli sekali dan lima kali di Linkou. Pernah merasakan salat Id di Masjid Longgang di Chungli dan Masjid Taipei,” ujar perempuan yang tinggal di Yogyakarta saat berbagi kesannya dengan Bisnis, belum lama ini.

Saat hari raya Idulfitri tiba, dia menuturkan salat Id diadakan di sejumlah masjid maupun tempat terbuka. Dia mencontohkan, salah satu lokasi terbuka yang biasa dipakai untuk menggelar salat Id yakni Taipei Main Station (TMS). Waktu pelaksaan salat juga berlangsung dalam jam yang berbeda-beda.

Suasana tertib harus benar-benar dijaga, tidak boleh sampai mengganggu lalu lintas. Dia menuturkan, salat Id di masjid lebih teratur karena panitia membentuk tenda-tenda di halaman masjid untuk mengakomodasi jemaah.

Jika ingin salat di bagian dalam masjid, jemaah harus datang 2 jam lebih awal dari jadwal salat yang ditentukan pukul 08.00 dan 09.00 waktu setempat. Karena space yang terbatas, salat Id diadakan dua shift .

Jika Lebaran jatuh pada hari minggu atau bertepatan dengan libur para tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan, suasana jauh lebih ramai. Setelah salat Id, biasanya mereka kumpul di TMS dan makan bersama dengan ketupat dan opor yang mereka bawa.

Akan tetapi, jika Lebaran bertepatan pada hari kerja, mereka dapat melampirkan surat izin libur dalam Bahasa Mandarin kepada atasan mereka yang dikeluarkan oleh pihak Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI).

Pihak KDEI juga rutin mengadakan open house setiap tahun setelah acara salat Id.

Rica juga menceritakan pengalamnnya saat berkeliling ke rumah penduduk Taiwan yang beragama Islam di sekitar area masjid. Rumah-rumah ini selalu menjadi tujuan saat Lebaran tiba. Seperti di Indonesia, mereka juga menggelar tradisi open house.

Berdasarkan data statistik dari Ministry of the Interior, terdapat 26 agama di Taiwan dengan mayoritas adalah Budha dan Taoism. Negara ini menganut prinsip demokrasi dan kebebasan beragama termasuk Islam dilindungi oleh Pemerintah Taiwan.

Meski warga muslim di Taiwan kurang dari 1%, tetapi fasilitas ibadah atau masjid cukup tersedia di Taiwan. Berdasarkan data pada 2013, terdapat tujuh masjid di Taiwan. Adapula tempat-tempat ibadah lain seperti musala, seperti yang baru-baru saja di bangun tak jauh dari lokas tempat Rica bekerja.

Hal itu untuk memberi ruang bagi lebih dari 200.000 masyarakat di Taiwan termasuk pekerja imigran dari Indonesia, Malaysia, India dan negara lainnya yang merupakan warga muslim.

Selama bulan Ramadan, aktivitas dari buka puasa, salat tarawih hingga sahur bersama selalu diadakan di masjid. Setelah berbuka dan menjalankan salat maghrib berjamaah, mereka melakukan tadarus hingga waktu Isya dan salat tarawih.

“Beberapa teman kuliah saya bahkan lebih memilih menginap setelah salat tarawih untuk kemudian mengikuti acara sahur bersama di masjid.”

Dari pengalaman itu, kebersamaan antara warga muslim di Taiwan, suasana Ramadan dan Lebaran tak ubahnya seperti di tanah kelahiran. Beda suasana tentu saja, tapi semua tetap menyambut dengan penuh suka cita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wni, taiwan, Mudik Lebaran

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top