PANGSA PASAR PENERBANGAN : GIAA Kuasai Luar Negeri, Lion Domestik

JAKARTA Maskapai penerbangan Garuda Indonesia masih merajai pangsa pasar penerbangan ke luar negeri sepanjang 2017 dengan penguasaan 39%, sedangkan pasar domestik masih milik Lion Air.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 19 Maret 2018  |  02:00 WIB
Calon penumpang pesawat mengamati jadwal penerbangan di kawasan Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Sabtu (23/9). - ANTARA/Fikri Yusuf

JAKARTA — Maskapai penerbangan Garuda Indonesia masih merajai pangsa pasar penerbangan ke luar negeri sepanjang 2017 dengan penguasaan 39%, sedangkan pasar domestik masih milik Lion Air.

Penguasaan Garuda yang merupakan emiten dengan kode saham GIAA itu hanya terpaut 13% dengan Indonesia AirAsia yang berada di posisi kedua untuk penguasa penerbangan internasional.

Untuk penerbangan dalam negeri, maskapai milik keluarga Rusdi Kirana sepanjang tahun lalu masih yang teratas dengan 33,13 juta penumpang atau menguasai 34% pangsa pasar disusul posisi kedua GIAA dengan 19,60 juta penumpang (20%).

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengatakan pertumbuhan penumpang pesawat udara internasional pada tahun lalu merupakan yang tertinggi selama 5 tahun belakangan.

Berdasarkan data Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara, jumlah penumpang internasional sepanjang 2017 sebanyak 12,49 juta orang, meningkat 20,4% dibandingkan dengan 2016 yang hanya 10,37 juta orang.

Menurutnya, hal tersebut mengindikasikan bahwa dukungan penerbangan nasional untuk pengembangan pariwisata serta pertumbuhan perekonomian nasional sangat besar.

“Ini akan membawa kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian nasional serta pariwisata karena bertambah banyaknya wisatawan asing yang datang ke Indonesia,” katanya di Jakarta, Minggu (18/3).

Selain disumbangkan maskapai nasional, lanjutnya, kontribusi jumlah penumpang pesawat internasional pada 2017 juga disumbangkan maskapai asing dengan 19,06 juta penumpang dengan volume kargo mencapai 384.936 ton.

Agus berpendapat pencapaian tersebut merupakan hasil kerja sama yang baik antarpemangku kepentingan di bidang penerbangan, baik regulator, operator, maupun pengguna jasa.

Khusus pertumbuhan penumpang domestik 2017, Agus juga memaparkan mengalami kenaikan hingga 8,4% atau menjadi 96,89 juta orang. Sepanjang 2016, arus penumpang pesawat di dalam negeri hanya 89,38 juta orang.

Menurutnya, kinerja positif juga diperlihatkan sektor kargo. Sepanjang 2017, tercatat sebesar 729.194 ton kargo diangkut menggunakan pesawat udara atau meningkat 1,8% dibandingkan dengan 2016 yang sebesar 715.936 ton.

“Peningkatan produksi sektor transportasi udara, berarti transportasi penduduk serta arus barang dan jasa juga semakin lancar,” paparnya.

Dia berpendapat peranan angkutan udara bagi masyarakat Tanah Air sangat vital karena kondisi geografis yang berbentuk kepulauan. Kelebihan angkutan udara adalah cepat, bisa terbang berkali-kali per hari ke berbagai tempat, dan sanggup menjangkau berbagai wilayah.

Di sisi lain, dia menyatakan faktor keselamatan, keamanan, dan kenyamanan tetap menjadi prioritas regulator.

Agus juga mengapresiasi kinerja para pemangku kepentingan penerbangan yang telah melayani 109,38 juta penumpang, baik domestik maupun internasional, pada 2017. Jumlah itu meningkat 9,6% dibandingkan dengan 2016 yang hanya 99.762.611 penumpang. “Saya mengharapkan kerja sama ini bisa ditingkatkan lagi,” kata Agus.

Manajemen Lion Air Group menyambut positif data pangsa pasar penerbangan domestik yang dirilis oleh Kementerian Perhubungan.

Berdasarkan data tersebut, maskapai berbiaya murah (low cost carrier/LCC) Lion Air mengangkut jumlah penumpang domestik terbanyak yaitu mencapai 33,13 juta orang.

“Kami optimis dan berharap mampu meningkatkan market share yang ada saat ini,” kata Corporate Communications Strategy Batik Air (Lion Air Group) Danang M. Prihantoro.

Dia menyatakan pencapaian tersebut didukung ekspansi rute baru yang dilakukan Lion Air Group sejalan dengan program pemerintah terutama percepatan pertumbuhan ekonomi daerah serta pariwisata.

“Kami akan terus mengembangkan jaringan lebih luas lagi, menghubungkan antarwilayah di Indonesia,” ujarnya.

Arista Atmadjati, CEO Arista Indonesia Aviation Center (AIAC), menilai tingginya pertumbuhan jumlah penumpang pesawat udara didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat kelas menengah dan faktor kebijakan pemerintah yang lebih terbuka dengan maskapai asing.

Menurutnya, jumlah maskapai asing yang beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Tangerang saja mencapai 34 unit maskapai.

“Artinya pemerintah Indonesia sudah sangat terbuka untuk membuka ruang udaranya untuk maskapai-maskapai asing agar bisa masuk ke wilayah Tanah Air,” kata Arista.

Dia menambahkan masyarakat kelas menengah Tanah Air yang gemar melakukan perjalanan wisata juga semakin banyak. Kondisi itu turut menyumbang angka pertumbuhan penumpang angkutan udara.

Namun, Arista menilai jumlah penumpang rute internasional tersebut tidak seluruhnya merupakan warga negara asing. Justru ada beberapa rute yang justru dipenuhi oleh masyarakat Indonesia.

“Itu terlihat dari target wisatawan mancanegara sebanyak 15 juta orang yang tidak tercapai pada tahun lalu,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penerbangan

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top