YLKI Kritik Perpanjangan Libur Mudik Lebaran Pemerintah

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai strategi pemerintah mengurai kemacetan dengan perpanjangan libur terbukti belum efektif.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 14 Juni 2018  |  01:20 WIB
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di ruas Tol Jakarta-Cikampek KM 37, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (10/6). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai strategi pemerintah mengurai kemacetan dengan perpanjangan libur terbukti belum efektif.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan sampai dengan H-4 arus mudik Lebaran relatif lancar. Tidak ada bencana kemacetan di jalan tol dan atau di jalan non-tol. Namun kondisi berbalik drastis pada H-3 dan H-2. Menurut Tulus, kemacetan di jalan tol mencapai klimaksnya.

“Pada H-3 kemacetan di pintu tol Cikarang Utama mencapai lebih dari 28 kilometer. Ekor kemacetannya pun terasa sampai Cawang, tol dalam kota. Pada H-2, hari ini, kemacetan di tol Cikampek bahkan semakin parah. Tol Copali pun macet total hingga 42 kilometer,” jelas Tulus melalui siaran pers, Rabu (13/6/2018).

Dia menilai strategi perpanjangan Libur Lebaran ternyata tidak efektif untuk mendorong pemudik melakukan perjalanan mudik lebih awal. Terbukti para pemudik masih menyerbu untuk mudik Lebaran pada H-3 dan H-2.

“Bahkan mungkin H-1. Bisa juga dikatakan perpanjangan libur Lebaran tidak dipatuhi oleh sektor pelaku usaha,” sambungnya.

Dia juga mengatakan, tersambungnya tol Trans-Jawa juga tidak mampu menampung lonjakan kendaraan pribadi roda empat yang melewati jalan tol, terutama tol Cikampek, dan Cipali. Peningkatan pemudik roda empat cukup signifikan.

Menurut data Kementerian Perhubungan pada 2017 ada pemudik sebanyak 3,3 juta unit dan pada 2018 mencapai 3,7 juta unit. Bisa dipastikan lebih dari 40 % adalah pengguna tol. “Bisa dibayangkan jika jumlah pemudik di Jabodetabek mencapai 11 juta,” terangnya.

Dengan demikian, perpanjangan libur Lebaran dan atau tersambungnya tol Trans-Jawa gagal sebagai pemecah kemacetan arus lalu lintas mudik Lebaran.

Dia menilai, pemerintah tidak konsisten dengan janji jika kemacetan mencapai 2 kilometer tarif tol akan digratiskan. “Buktinya, kemacetan sudah mencapai 28-42 kilometer pun tidak digratiskan,” tegas Tulus.

Dia menyatakan ke depan, solusi efektif untuk memecah kemacetan arus mudik adalah menambah akses dan kapasitas angkutan umum masal, dan angkutan umum di daerah tujuan. Bukan memperpanjang libur Lebaran dan atau bahkan akses jalan tol.

“Jalan tol justru karpet merah untuk merangsang mudik dengan kendaraan pribadi, dan ending-nya adalah neraka kemacetan,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ylki, Mudik Lebaran 2018

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top