Sidak Pedagang Takjil di Bandung, BPOM Temukan Cincau Mengandung Boraks

Petugas BBPOM melakuan inspeksi mendadak dengan memeriksa sejumlah sampel takjil yang dijual pedagang kaki lima di kawasan Ir. H. Djuanda, Kota Bandung,
Kepala BBPOM Bandung, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa, (kiri) memperlihatkan hasil sidak takjil pada Kamis (9/5/2019). - Bisnis.com/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG – Petugas Balai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung melakukan inspeksi mendadak (sidak) dengan memeriksa sejumlah sampel takjil yang dijual pedagang kaki lima di kawasan Ir. H. Djuanda, Kota Bandung, Kamis (9/5/2019).

Hasilnya, kata Kepala BBPOM Bandung, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa, petugas menemukan satu sampel jajanan yang positif mengandung boraks.

Dia menjelaskan pihaknya menemukan sampel minuman cincau positif mengandung boraks dari 25 sampel takjil yang diperiksa di mobil laboratorium. Sementara itu, 24 sampel jenis makanan dan minuman lainnya dinilai masih berada pada batas aman untuk dikonsumsi.

“Biasanya ini [boraks] digunakan untuk membuat kenyal makanan. Selain dalam cincau, kami pernah temukan juga dalam bakso, cilok, dan banyak makanan lainnya,” kata Bagus.

Bagus menjelaskan sebenarnya ada cara mudah bagi masyarakat awam untuk mengetahui makanan yang hendak dibeli apakah mengandung bahan berbahaya tersebut atau tidak.

“Untuk takjil, kami mohon kepada masyarakat agar selalu mencermati warna makanannya. Kalau warnanya lebih mencolok dari biasanya, itu biasanya mengandung Rhodamin B [senyawa kimia berbahaya]. Fungsinya untuk membuat kenyal makanan. Tahu [dengan kandungan Rhodamin B] biasanya lalat pun tidak mau hinggap,” ujar Bagus.

Dia mengatakan pada sidaknya yang dilakukan pada Kamis ini, pihaknya menilai terjadi penurunan temuan bahan berbahaya dalam makanan yang dijual pedagang kaki lima.

“Memang, sampai saat ini kami belum bisa berikan evaluasi. Tapi, secara nasional, [penggunaan bahan berbahaya] masih sekitar 10%. Ini hasil dari pembinaaan secara terus menerus, yang dilakukan setiap saat, bukan hanya Ramadan,” paparnya.

Dia pun mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam membeli jajanan di tempat yang tidak terjamin kualitas produknya. Pasalnya, penggunaan boraks sebagai salah satu pencampur bahan pangan sudah terjadi sejak lama dan dilarang di Indonesia.

Efek samping yang ditimbulkan saat bahan kimia berbahaya tersebut masuk ke tubuh manusia pun tidak main-main. Gejala yang mungkin akan timbul yakni mulai dari demam, muntah, sesak nafas, hingga pendarahan dari hidung.

Bagaimana tidak, dia mengatakan boraks merupakan bahan kimia yang umumnya digunakan untuk mematri logam, membuat gelas, pestisida, juga untuk campuran pembersih.

Penggunaan boraks oleh para pedagang bandel tak lepas dari anggapan bahwa bahan kimia tersebut mampu mengawetkan makanan atau minuman dan meningkatkan kerenyahan juga kekenyalan makanan atau minuman.

“Boraks merupakan bahan kimia, sehingga seberapa pun kadarnya tetap akan membahayakan tubuh dan menggangu ginjal, hati, dan sebagainya. Jadi, memang harus dihindari,” tutur Bagus.

Sebenarnya, kegiatan sidak ini sudah mereka lakukan sejak 2 pekan sebelum memasuki bulan puasa 2019. Namun, memasuki Ramadan, pihaknya mengintensifkan pemeriksaan guna melindungi masyarakat dari produk yang mengandung bahan berbahaya.

“Setelah Ramadan, tentu kami semakin intensif karena memasuki masa pengawasan pangan jelang hari raya yang dilakukan BBPOM di Bandung,” kata Bagus.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bpom, Ramadan

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup