Bukber di Austria, Syamsi Ali: Islam Menghargai Perbedaan

Ustad Syamsi Ali merupakan warga Indonesia yang bermukim di New York, Amerika Serikat, dan aktif berdakwah untuk mempromosikan wajah Islam yang damai, sejuk, dan rahmatan lil ‘alamin di kalangan masyarakat Barat.
Ustad Muhammad Syamsi Ali saat memberikan ceramah di Kedutaan Besar Republik Indonesia/Perutusan Tetap Republik Indonesia (KBRI/PTRI) Wina, Sabtu (11/5/2019)./Dok. KBRI Wina/Andhina Wulan -

Bisnis.com, WINA – Merantau di negeri asing tidak lantas membuat warga muslim Indonesia melalaikan ibadah dan syiar agama, terlebih di bulan suci Ramadan.

Layaknya tradisi di Tanah Air, selama Ramadan masyarakat muslim di Wina, Austria, rutin menyelenggarakan buka puasa bersama yang diisi dengan ceramah keagamaan. Acara tersebut juga menjadi ajang silaturahmi sesama warga Indonesia.

Salah satunya adalah seperti yang dilaksanakan pada Sabtu (11/5), bertempat di Kedutaan Besar Republik Indonesia/Perutusan Tetap Republik Indonesia (KBRI/PTRI) Wina.

Buka puasa bersama yang diselenggarakan KBRI/PTRI Wina bersama Warga Pengajian Austria (WAPENA) ini menghadirkan Ustad Muhammad Syamsi Ali sebagai pemberi tausiah.

Ustad Syamsi Ali merupakan warga Indonesia yang bermukim di New York, Amerika Serikat, dan aktif berdakwah untuk mempromosikan wajah Islam yang damai, sejuk, dan rahmatan lil ‘alamin di kalangan masyarakat Barat. Beliau juga merupakan Ketua Masjid Al-Hikmah dan Direktur Jamaica Muslim Center di New York.

Salah satu mutiara hikmah yang beliau sampaikan adalah perlunya umat Islam menghargai perbedaan dengan tetap mengedepankan persatuan. Hal ini terutama berlaku bagi umat muslim Indonesia yang dikaruniai anugerah berupa keragaman.

“Indonesia ini sangat indah karena adanya keragaman. Ini merupakan kenikmatan luar biasa yang harus kita syukuri. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana memahami keragaman tersebut secara proporsional sehingga kita bisa mendudukkannya secara benar,” kata Syamsi.

Dia menjelaskan, Rasulullah menghargai dan bahkan mendorong keragaman di kalangan sahabat-sahabatnya. Sebagai contoh, suatu kali Nabi memerintahkan para sahabat pergi ke sebuah kampung dan berpesan agar mereka melaksanakan salat setelah tiba di kampung tersebut.

Di tengah jalan, ketika tiba waktu salat, sebagian sahabat melaksanakan salat sementara sebagian yang lain tidak. Para sahabat pun saling menyalahkan lalu mengadu ke Nabi.

Ternyata Nabi mengatakan bahwa mereka sama-sama benar karena berpatokan pada Alquran. Sahabat yang salat berpatokan pada perintah untuk salat pada waktunya, sementara sahabat yang tidak salat berpegangan pada perintah Nabi untuk salat setelah tiba di kampung yang dituju.

Kisah lain adalah Ibnu Hambal yang mengunjungi makam Imam Syafi’i. Imam Ibnu Hambal berpandangan bahwa salat subuh tidak menggunakan qunut, sedangkan Imam Syafi’i berpendapat qunut merupakan sunah.

Pada saat Imam Ibnu Hambal berziarah ke makam Imam Syafi’i, beliau sengaja menggunakan qunut saat salat subuh demi menghormati sang ahli kubur.

Dari kisah-kisah tersebut dapat dipetik hikmah bahwa perbedaan sesungguhnya indah dan tidak perlu menjadi sumber pertengkaran, terlebih sampai harus mengkafirkan orang yang jelas-jelas muslim hanya karena perbedaan pandangan dan tata cara beribadah.

AGAMA BUKAN SEKAT

Lebih jauh, Ustad Syamsi juga menjelaskan bahwa agama tidak seharusnya menjadi sekat bagi umat manusia untuk saling menghormati dan berbuat kebajikan kepada sesama. Adalah sudah kehendak Allah bahwa umat manusia memeluk agama yang berbeda-beda, dan hal tersebut harus disikapi secara bijaksana.

“Dalam Alquran disebutkan bahwa jika Allah menghendaki, niscaya Dia bisa membuat seluruh umat manusia beriman. Tapi Allah tidak lakukan itu. Ini menunjukkan bahwa keragaman merupakan sunnatullah,” ujarnya.

Kerukunan antar-umat beragama sudah dicontohkan Nabi dengan Piagam Madinah yang dapat menjadi pemersatu bagi penduduk Madinah yang majemuk. Dalam konteks keindonesiaan, pemersatu itu adalah Pancasila dan UUD 45 yang harus dijaga dan dirawat bersama.

Sementara itu, Dubes RI untuk Austria, Dr. Darmansjah Djumala, menyampaikan bahwa acara buka puasa ini merupakan ajang bagi masyarakat Indonesia di Austria untuk menjalin silaturahmi. Selain masyarakat muslim, hadir pula warga dari komunitas Kristen dan Hindu yang turut diundang untuk santap bersama.

“Acara ini kita maksudkan untuk menyediakan forum bagi masyarakat Indonesia untuk mengadakan silatararhmi di bulan Ramadan, di samping juga kita ingin menumbuhkan semangat kebersamaan dan solidaritas sesama masyarakat Indonesia di Austria.

“Oleh karena itulah kita mengundang saudara kita yang non-muslim untuk juga ikut bergabung bersama kita dalam acara makan malam. Kegiatan ini menjadi semacam simbol bahwa masyarakat Indonesia terlepas dari ras, etnis, dan agamanya tetap merupakan saudara,” ujar Djumala.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kbri, islam, muslim, Ramadan, alquran

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup