Masjid Sunda Kelapa Jakarta Gelar Pesantren Kilat Gratis

Anak-anak yatim dan duafa mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dalam pesantren kilat Ramadhan yang berlangsung di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Mei 2019  |  19:09 WIB
Jemaah berdoa setelah melaksanakan salat di salah satu masjid di Jakarta. - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Anak-anak yatim dan duafa mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dalam pesantren kilat Ramadhan yang berlangsung di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta pada 12-25 Mei mulai pukul 13.00 WIB sampai waktu berbuka puasa tiba.  

"Kita mulai program hari ini, jumlah peserta ada 200 anak dari yatim dan kaum duafa. Mereka kita bina dalam pesantren kilat Ramadan selama 14 hari," kata Ahmad Izzuddin, pengurus program pembinaan anak asuh Masjid Agung Sunda Kelapa (Paska).

Izzuddin mengatakan 60 persen materi belajar dalam Paska mengenai Alquran, dan sisanya mencakup ilmu fiqih, tauhid, tarikh, aqidah, dan akhlak. Pelajaran disampaikan oleh 20 pengajar.

Program belajar yang berlangsung 14 hari itu, menurut dia, khusus menyasar anak-anak usia 9-14 tahun yang orang tuanya sudah meninggal dunia dan masuk kategori miskin menurut pemerintah, dibuktikan dengan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari kelurahan.

"Ada survei juga dari tim kita ke rumah pendaftar sebagai ikhtiar agar programnya tepat sasaran," kata Izzuddin.

Setelah mengikuti program itu, peserta akan mendapat semacam rapor. "Seperti rapor sekolah, tapi bentuknya lembaran. Kita bagikan nanti setelah 14 hari selesai dilaksanakan," kata Ketua Pengurus Paska dan Panitia Ramadan, Ahmad Sa'id.

Izzuddin menjelaskan program yang sudah dilaksanakan sejak 1995 itu berawal dari keprihatinan pengurus masjid pada minimnya akses pendidikan agama bagi anak jalanan. Seiring dengan perkembangan waktu, target program bergeser ke anak-anak yatim dan kurang mampu dalam arti luas, bukan hanya yang tinggal di jalanan.

Peserta program belajar itu tidak dikenai biaya. Pengurus masjid menyelenggarakan program menggunakan dana dari kas masjid dan sumbangan dari jamaah masjid.

Anak Misriyah (37) merupakan salah satu peserta program belajar yang diharapkan bisa membantu mengurangi jumlah anak yang tidak bisa membaca Alquran itu. "Dia yang minta sendiri setelah lihat selebaran di tembok dekat rumah," ujarnya.

Warga Menteng Tenggulun itu senang anaknya bisa ikut belajar membaca Alquran dan ilmu agama yang lain dalam program tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ramadan, pesantren

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top