Olahraga Saat Puasa, Pelajari Kiat-kiatnya

Instruktor dari LesMils Bodypump Certified Diraja Permata Sutan mengatakan olahraga dapat dilakukan sejak setelah sahur atau jelang berbuka. Rutinitas berolahraga bisa dilakukan dengan beberapa penyesuaian seperti durasi dan intensitas olahraga.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  19:51 WIB
Ilustrasi - Codyapp

Bisnis.com, JAKARTA - Instruktor dari LesMils Bodypump Certified Diraja Permata Sutan mengatakan olahraga dapat dilakukan sejak setelah sahur atau jelang berbuka. Rutinitas berolahraga bisa dilakukan dengan beberapa penyesuaian seperti durasi dan intensitas olahraga. 

Menurutnya, olahraga saat puasa cukup dilakukan dalam intensitas ringan. Jika selesai sahur, beberapa bentuk olahraga ringan seperti jogging maupun yoga dapat dilakukan. Sebelum memulai, peregangan tubuh diperlukan untuk mengetahui kondisi tubuh. Jika memang tidak memungkinkan, lebih baik tidak dipaksakan.

Sementara itu, olahraga juga dapat dilakukan 1 jam atau 30 menit sebelum waktu berbuka puasa. Setelah melakukan peregangan tubuh, lakukan beberapa gerakan olahraga seperti senam ataupun lari-lari kecil. Namun olahraga tidak disarankan melebihi batas waktu tersebut.

“Paling penting adalah konsisten dan komitmen. Jika sudah melakukan kedua hal tersebut, olahraga akan rutin dilakukan meski dalam keadaan puasa,” katanya belum lama ini.

Olahraga dengan intensitas tinggi seperti body combat, body pump atau angkat beban sejatinya tetap dapat dilakukan saat puasa. Aktivitas ini disarankan dilakukan setelah satu jam pasca berbuka dengan makan berat. Usai olahraga ini, disarankan untuk mengonsumsi pisang demi mengembalikan energi dengan cepat sehingga waktu istirahat menjadi maksimal.

dr. Sandi Perutama Gani Medical Expert Combiphar mengatakan pola makanan menentukan bagaimana kondisi tubuh saat berpuasa. Biasanya masyarakat Indonesia mengonsumsi nasi putih saat berbuka ataupun sahur. Makanan ini akan mudah diproses oleh lambung dan dibawa ke usus. Alhasil perut cepat kekurangan makanan.

Sementara itu, untuk makanan seperti nasi merah, gandum, buah hingga umbi-umbian akan memperlambat proses karena memiliki tingkat nutrisi dan protein komplek. Kondisi ini membuat makanan bertahan lebih lama d dalam lambung.

Menurutnya ukuran cepat atau lambatnya tubuh mengosongkan lambung dapat dilihat dari indeks glikemik. Semakin rendah indeks glikemik dari makanan maka akan semakin lambat pula waktu tubuh mengosongkan makanan dari lambung. 

“Kalau makanan yang dikonsumsi dengan indeks glikemik tinggi maka akan cepat lapar [karena perut cepat dikosongkan]. Saat sahur bagusnya makan yang IG-nya rendah. Mie instan dan nasi putih adalah IG yang paling tinggi. Yang rendah IG-nya adalah yang tinggi serat, buah beras merah, roti, gandum,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
olahraga

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top