Suami Dianjurkan Tambah Uang Belanja Saat Ramadan? Ini Hukumnya

Pada 10 hari terakhir bulan suci Ramadan, pengeluaran dalam keluarga cenderung meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan untuk persiapan menyambut Idulfitri.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  11:29 WIB
Tadarus Alquran saat Ramadan lebih dianjurkan daripada berbelanja yang sebenarnya tidak diperlukan. - Antara/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA – Pada 10 hari terakhir bulan suci Ramadan, pengeluaran dalam keluarga cenderung meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan untuk persiapan menyambut Idulfitri.

Namun di sisi lain, sebagian kaum muslim juga mulai meningkatkan intensitas ibadah, seperti melakukan iktikaf di masjid-masjid, memperbanyak zikir, dan membaca Alquran, sambil berharap bisa mendapatkan Lailatul Qadar yang di dalam Alquran disebutkan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.

Peningkatan intensitas ibadah tentu sangat baik karena Lailatul Qadar diyakini turun pada 10 hari terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil. Namun, hal yang tidak kalah penting mendapatkan perhatian adalah suplai kebutuhan keluarga yang menjadi tanggung jawab para suami sebagai kepala keluarga.

Simak penjelasan Ustaz Mahbub Maafi, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, mengenai anjuran memberi uang belanja lebih kepada istri pada 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Imam al-Mawardi salah satu ulama kenamaan dari kalangan madzhab Syafi'i berpendapat bahwa bagi suami disunnahkan atau dianjurkan untuk memberikan uang belanja lebih untuk kebutuhan keluarganya pada bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari akhir bulan suci Ramadhan.

Bahkan bukan hanya itu saja, seorang suami juga dianjurkan untuk berbuat kebajikan kepada kerabat dan tetangga. Hal ini sebagaimana dikemukakan Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi sebagai berikut:

"Al-Mawardi berpendapat bahwa dianjurkan bagi seorang suami untuk memberikan lebih untuk memenuhi kebutuhan keluarganya pada bulan Ramadan, berbuat kebajikan kepada sanak-famili, dan tetangganya, terlebih pada 0 hari akhir bulan suci Ramadlan." (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Kairo-Dar al-Hadits, 1421 H/2010 M, juz, VII, h. 576)

Pandangan itu setidaknya memberikan dua pesan penting. Pertama, para suami sangat dianjurkan untuk memberikan uang belanja lebih atas kebutuhan keluarganya, apalagi ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan seperti memberikan uang belanja lebih kepada istri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kedua, seorang suami juga perlu menyeimbangkan antara peningkatan intensitas beribadah pada 10 hari terakhir dengan kebajikan-kebajikan lainnya. Di satu sisi memperbanyak dan meningkatkan ibadah dan di sini lain juga memberikan lebih untuk menyuplai kebutuhan keluarga, berbagi, dan berbuat kebajikan pada kerabat dan tetangga.

Jika kita menelisik lebih dalam terhadap anjuran pemberian suplai lebih terhadap kebutuhan keluarga, berbagi atau berbuat kebajikan kepada kerabat dan tetangga pada bulan Ramadhan sebagaimana dikemukakan Imam Al-Mawardi di atas, hal itu didasarkan kepada salah satu hadits yang menganjurkan kepada kita untuk meningkatkan sedekah saat Ramadhan sebagaimana berikut:

"Dari Anas ra ia berkata, bahwa Rasulullah saw pernah ditanya apakah sedekah yang paling utama? Beliau pun menjawab sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan" (HR. Al-Baihaqi).

Namun, para istri yang mendapatkan suplai kebutuhan lebih dari suaminya pada Ramadan seperti mendapatkan tambahan uang belanja agar tidak menggunakannya secara berlebihan seperti membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan sebab itu bertentangan dengan semangat puasa itu sendiri.

Begitu juga berlaku untuk para kerabat dan tetangga yang mendapatkan rejeki lebih saat Ramadhan, tidak menggunakannya di luar kebutuhan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ramadan

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top