MUI Palu Gelar Iktikaf Berjamaah di Donggala

MUI Kota Palu menggelar iktikaf dan sholat tasbih berjamaah di malam ke 27 Ramadan di Masjid Ar-Rahmat Desa Loli Dondo Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  21:34 WIB
Ilustrasi seseorang beribadah saat iktikaf. - Antara/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, PALU – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu menggelar iktikaf dan sholat tasbih berjamaah di malam ke 27 Ramadan di Masjid Ar-Rahmat Desa Loli Dondo Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (31/5/2019) dini hari.

Ketua MUI Kota Palu Prof Zainal Abidin menjelaskan bahwa beribadah atau lebih tepatnya mengabdi kepada Allah SWT adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia.

Hal tersebut selaras dengan perintah yang tertuang dalam Alquean vahwa manusia dan jin diciptakan untuk tujuan mengabdi kepada-Nya meskipun kita beribadah maupun durhaka sesungguhnya sama sekali tidak memengaruhi keagungan Allah. Artinya, perbuatan manusia tidak memengaruhi keagungan, kebesaran, dan kesucian Allah.

Rektor Pertama IAIN Palu ini menyebut ada tiga hal yang motivasi mendorong manusia untuk beribadah berdasarkan pendapat Ibnu Sina.

Pertama, motivasi ala pedagang. Seseorang beribadah karena didorong oleh keuntungan timbal balik dari sesuatu yang ia keluarkan, misalnya, ia menunaikan shalat, puasa, zakat, bersedekah, menolong sesama, atau lainnya dengan penuh pengharapan bahwa balasan surga kelak.

"Alasan seseorang rela berlapar-lapar puasa di alam fana ini adalah sebab di akhirat nanti ia bakal kenyang, susah-susah bangun malam untuk sembahyang tahajud sebab ia tahu ada kelezatan yang bakal diperoleh dari jerih payah itu," sebut Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu.

Segenap ibadah di dunia-pun, menurut dia, menjadi semacam modal dan aktivitas perniagaan, dengan kenikmatan surgawi sebagai laba yang diidam-idamkan.

Logikanya, siapa yang berinvestasi maka akan menuai hasilnya. Siapa yang menanam, akan memanen.

"Alquran sendiri di beberapa tempat mengabarkan bahwa siapa pun yang beriman dan berbuat baik akan mendapatkan surga. Bahkan janji itu dideskripsikan dengan mengambil kiasan surga yang berisi sungai-sungai mengalir, buah-buahan, juga bidadari. Ini adalah gambar dari keuntungan yang bakal diperoleh bagi orang-orang yang bersusah payah mengisi kehidupan dunia yang sementara ini dengan iman dan amal shalih,” ujar Guru Besar IAIN Palu itu.

Selanjutnya, yang kedua, adalah motivasi ala budak atau buruh. Kata kunci dari dorongan beribadah ini adalah ketakutan. Seorang hamba menjalankan ibadah kepada Allah karena dibayang-bayangi ancaman akan siksaan api neraka.

"Seorang buruh yang takut majikannya, ia menunaikan tugas dalam rangka menghindari penderitaan di kehidupan kelak," sebutnya.

Orang dengan motivasi ini biasanya beribadah untuk sekadar lepas status sebagai hamba durhaka. Adzab-adzab yang dipaparkan dalam kitab suci menjadi pemicu kuat mengapa ia harus melakukan ini dan menghindari itu.

Baginya manusia sudah telanjur diciptakan dan kini manusia harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Konsekuensi dari pelanggaran atas kewajiban tersebut sudah sangat jelas, yakni siksa api neraka.

“Yang ketiga adalah motivasi orang ‘arif (mengenal Allah). Bagi orang jenis ini, beribadah adalah sebuah keniscayaan setelah menyaksikan betapa dahsyatnya karunia yang Allah berikan kepada alam semesta ini, setelah menghayati kebijaksanaan dan kemahasempurnaan Allah kepada makhluk-makhluknya,” ungkap Rois Syuria Nahdlatul Ulama Sulteng itu.

Oleh karena itu, yang menonjol dalam ibadah mereka adalah keikhlasan yang mendalam, bukan kenikmatan surgawi yang diburu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ramadan, itikaf

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top