Tasawuf Agama Bisa jadi 'Vaksin' Atasi Paham Radikal Terorisme

Ketika spiritualitas muncul dan menonjol maka hal itu akan tercermin dalam perilaku akhlakul karimah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 Mei 2021  |  12:10 WIB
Ilustrasi - Warga bertadarus membaca Alquran saat Ramadan 1440 Hijriah di Masjid Al-Azhar Desa Pusong Lhokseumawe, Aceh, Jumat (10/5/2019). - Antara/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA - Tasawuf agama dinilai bisa menjadi vaksin menghadapi pemikiran radikal terorisme.

Tasawuf agama dapat mendorong orang yang mempelajarinya mengeksplor dan menggali aspek spiritualitas di dalam keagamaan.

Ketika spiritualitas itu muncul dan menonjol, ekspresinya akan tercermin dalam perilaku akhlakul karimah.

Demikian disampaikan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R Ahmad Nurwakhid.

Ia menilai tasawuf agama (dalam hal ini nilai Ihsan) sebagai "vaksin" menghadapi paham radikal terorisme.

Hal itu disampaikan Ahmad Nurwakhid saat menjadi narasumber acara "Ngaji Onlne" yang digelar Pondok Pesantren Raden Rahmat Sunan Ampel, Senin (3/5/2021).

Ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah mensyariatkan atau memfatwakan bahwa rukun dalam beragama ini, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Rukun Ihsan inilah yang bisa mengeksplor dan menggali aspek spiritualitas di dalam keagamaan. Ketika spiritualitas itu muncul dan menonjol maka tercermin dalam perilaku akhlakul karimah sebagaimana misi utama daripada Rasulullah Muhammad SAW.

Nabi Muhammad dalam salah satu sabdanya menyebutkan tidak sekali-kali ia diutus oleh Allah (kecuali) hanya satu untuk menyempurnakan akhlak, untuk membangun akhlakul karimah. "innama bu'istu liutammima makarimal akhlak."

Disebutkan Akmad Nurwakhid untuk bisa menggali atau mengeksplor spiritualitas di dalam keagamaan itu tidak ada jalan lain kecuali dengan tasawuf.

Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.

"Kunci utama daripada kekaffahan agama itu adalah Iman, Islam dan Ihsan. Dan kelemahan bangsa Indonesia khususnya umat Islam itu pada aspek ihsan atau aspek spiritualitas, yang mana dalam konteks ini adalah tasawuf," tutur Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid, seperti disampaikan dalam keterangan resmi BNPT.

Dia mencoba mengkomparasi atau merelevansikan tasawuf dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbicara tentang radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama, tentunya hal tersebut bukan monopoli satu agama. Radikalisme ada di setiap agama, ada di setiap sekte, ada di setiap kelompok, bahkan potensial pada setiap individu manusia.

Menurut dia, akar masalah radikal terorisme sendiri adalah ideologi yang menyimpang atau ideologi yang terdistorsi. Bahkan, ujarnya, radikalisme dalam konteks Indonesia, kalau di luar negeri dengan istilah ekstremisme, inilah yang menjiwai dari segala aksi terorisme.

Ahmad menegaskan bahwa radikal terorisme yang mengatasnamakan Islam sejatinya adalah fitnah bagi Islam.

"Karena tindakan perbuatan sikapnya itu bertentangan jauh dengan prinsip-prinsip nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Yang mewajibkan lita’arafu yaitu harus saling mengenal, saling memahami, saling menghormati, saling menyayangi, yang wajib menebar kasih sayang, perdamaian dan lain sebagainya, akhlakul kharimah," ujarnya.


Ia meyakini bahwa radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan Islam sejatinya adalah proxy untuk menghancurkan Islam dan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
terorisme, radikal, bnpt

Sumber : Antara

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top